Bertemu Fitri: Pencarian dalam Keheningan Diri
"Makna Idulfitri dalam renungan tentang ego, fitrah dan menemukan jalan pulang menuju kedamaian jiwa yang sejati"

JURNALISTERATE- Ego adalah ilusi halus, sebuah topeng yang kita kenakan untuk menyembunyikan diri yang sebenarnya. Ia bisa mengenakan jubah agama yang berkilau, menyuarakan ayat-ayat suci dengan lantang dan berbicara dengan lidah yang fasih tentang Tuhan yang Maha Agung. Namun, jika kita menggali lebih dalam, kita akan menemukan bahwa segala penampilannya itu hanya sebuah upaya untuk mendapatkan pengakuan, untuk diakui dan divalidasi oleh dunia. Begitu ia merasa diabaikan, ego akan berontak, menuntut perhatian, menjulang tinggi dengan klaim-klaim kebijaksanaan yang seolah-olah datang dari langit.
Namun, di balik kebisingan itu, ada mereka yang telah benar-benar menemukan jalan pulang ke dalam diri. Mereka bukanlah mereka yang terperangkap dalam hiruk-pikuk pencarian duniawi. Tidak, mereka adalah pencari sejati, yang tidak membuang waktu untuk membuktikan kepada dunia bahwa mereka lebih suci, lebih bijak atau lebih benar. Dalam diam, mereka merasakan kedamaian yang tidak terjangkau oleh kata-kata, tidak terukur oleh pengakuan dunia. Mereka yang telah menemui kebenaran bukan dengan retorika, bukan dengan cara berdebat, tetapi dengan kesederhanaan dan keheningan hati.
Mereka yang telah sampai pada kedalaman ruhani ini sering kali terlihat sangat biasa, seperti kita yang lainnya. Mereka masih tertawa dalam kesederhanaan, masih bekerja dengan penuh ketulusan, masih duduk di warung kopi, menikmati kehidupan dengan cara yang paling manusiawi. Mereka tidak terjebak dalam kecemasan, tidak takut akan penghakiman, tidak merasa perlu membuktikan siapa mereka kepada dunia. Di dalam hati mereka, dunia ini tidak lebih dari sebuah perjalanan singkat yang penuh dengan pembelajaran, di mana setiap detik adalah kesempatan untuk kembali ke fitrah yang sejati.
Di dunia yang terus bergerak dengan kecepatan tak terkendali, mereka yang telah menemukan kebenaran sejati lebih memilih untuk tetap diam dalam kedamaian batin mereka. Mereka tahu, dunia ini tidak akan pernah sepakat dengan segala yang mereka yakini. Dan itu bukan masalah. Mereka telah menemukan satu ruang yang jauh lebih dalam dan lebih damai daripada segala debat dan pertentangan. Ruang itu adalah ruang kemenangan yang tidak bisa diganggu oleh segala pujian maupun hujatan. Ruang yang hanya berisi kedamaian, karena lahir dan batin mereka telah kembali pada fitrah, pada asal yang hakiki.
Fitrah, dalam tafsiran, adalah keadaan jiwa yang bebas dari segala keterikatan. Ketika seseorang kembali kepada fitrah, ia tidak lagi diperbudak oleh ego yang selalu mencari pengakuan. Dalam kesederhanaan hidup yang diterimanya, ia menemukan kedamaian yang tidak terganggu oleh kebisingan dunia. Seperti embun yang menyejukkan daun di pagi hari, kedamaian yang ditemukan di dalam diri seseorang yang telah kembali kepada fitrah adalah ketenangan yang tak terlukiskan. Ia bukan ketenangan yang terjaga karena dunia sependapat dengannya, tetapi karena ia telah mengosongkan dirinya dari segala keinginan untuk dibenarkan oleh dunia.
Mereka yang telah menemukan jalan ini, tidak lagi mencarinya di luar diri mereka. Mereka tidak perlu lari ke sana kemari untuk membuktikan bahwa mereka benar. Mereka tahu bahwa kebenaran sejati tidak bisa ditemukan dalam kata-kata atau klaim dunia. Ia ada dalam keheningan, dalam ruang yang tidak terganggu oleh ego. Di ruang itulah, mereka bertemu dengan diri mereka yang sejati, dengan Tuhan yang tak terhingga.
Dan ketika mereka duduk di sebuah warung kopi, berbincang dengan teman, tertawa dalam kesederhanaan, mereka tidak merasa terpisah dari apa pun. Karena mereka telah menemukan kedamaian yang tidak terpengaruh oleh pendapat dunia. Mereka telah menggapai sesuatu yang lebih dalam dari sekadar pemahaman intelektual. Mereka telah menemukan ketenangan dalam kedamaian batin yang lahir dari kesadaran bahwa segala sesuatu adalah ciptaan-Nya. Mereka adalah saksi dari kehidupan yang mengalir begitu alami, tanpa perlu dipaksakan atau dibuktikan.
Ego tidak bisa memahami hal ini, karena ego selalu ingin sesuatu yang lebih. Ia ingin status, pengakuan, pujian. Tetapi mereka yang telah mencapai kedamaian sejati tahu bahwa segalanya sudah sempurna sebagaimana adanya. Tidak ada yang perlu dibuktikan, tidak ada yang perlu dicari di luar diri. Semua yang mereka butuhkan ada di dalam, dan itulah kenikmatan yang hakiki.
Jadi, ketika kita bertemu dengan fitrah kita, kita tidak akan terkejut jika dunia tidak sepakat dengan kita. Kita tidak akan merasa terganggu dengan cacian atau pujian. Kita akan tetap berada dalam kedamaian yang dalam, yang tidak bisa diganggu oleh apa pun. Karena kita tahu bahwa kita sudah kembali kepada asal kita yang sejati, kita sudah kembali pada Tuhan yang Maha Pengasih.
Begitulah, dalam setiap tawa, dalam setiap langkah, dalam setiap perbincangan yang sederhana, kita bisa menemukan kedamaian yang sejati. Kita bisa menemukan Tuhan dalam setiap detik kehidupan kita. Kita bisa menemukan fitrah kita di dalam keheningan yang membawa kedamaian.
Maka, mari kita kembali kepada fitrah kita, kembali kepada kedamaian yang sejati. Karena itulah kemenangan yang sebenarnya. Itulah jalan pulang yang membawa kita kepada Tuhan. Dalam diam, dalam tawa, dalam secangkir kopi, semuanya adalah bagian dari perjalanan spiritual yang membawa kita lebih dekat kepada-Nya.
#iedulfitri
DulurDewe 💚🙏🤍
Harap berkomentar yang sopan dan sesuai topik, komentar berisi spam akan dimoderasi. Terima kasih